Penyebab Ilmu Tidak Berkah dan Tidak Bermanfaat

Penyebab Ilmu Tidak Berkah dan Tidak Bermanfaat
Apakah ilmu kita berkah?

Pintuislami.com - Penyebab ilmu tidak berkah. Ketika kita menuntut ilmu pada semua guru-guru kita, apa tujuan yang ada dalam benak pikiran atau hati kita yang pertama kali terucap? Pertanyaan ini sangat perlu untuk kita cari tahu jawabannya. Mengapa ada pertanyaan seperti itu? Sebab, banyak diantara kita yang sedang menuntut ilmu, akan tetapi memiliki tujuan yang kurang pas, bahkan ada juga yang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Ilmu agama bukanlah tujuan paling utama untuk belajar agama. Untuk belajar agama bukan semata-mata hanya ilmu saja. Tujuan kita belajar agama dan mencari ilmu itu adalah bagaimana caranya agar kita bisa mengamalkan ilmu yang kita pelajari tersebut. Mengapa demikian? Sebab, banyak yang belajar ilmu agama, bahkan sudah tahu hampir keseluruhan ilmu agama, akan tetapi tidak pernah mengamalkannya, bahkan tak jarang menentangnya. Bukankah itu akan menjadi percuma?

Jika kita sudah berilmu, tapi tidak bisa mengamalkannya, inilah yang disebut dengan "ilmu yang tidak berkah dan tidak bermanfaat". Bahkan ilmu tersebut bisa dibilang sia-sia karena tidak bisa menjaga orang yang mengetahui ilmu tersebut. Lalu, seperti apa ilmu yang tidak berkah itu, dan seperti apa ilmu yang berkah? Berikut ini contohnya.

Seperti apa ilmu yang tidak berkah?

Tidak berkahnya ilmu telah sedikit dicontohkan dari penjelasan di atas. Untuk lebih jelasnya lagi, berikut ini contohnya. Misalnya, si Fulan tahu banyak hadits dan ayat mengenai "sabar ketika mendapatkan ujian, cobaan, dan musibah", bahkan ia hafal hadits dan ayat-ayat mengenai hal tersebut. Akan tetapi, si fulan justru tidak bisa sabar dan malah mencela takdir Allah ketika mendapatkan musibah. Saat ia mendapatkan musibah, saat itu juga ia melupakan semua hadits dan ayat yang pernah dihafal. Bisa dibilang si Fulan hanya sekedar menghafal.

Seperti apa ilmu yang berkah?

Ilmu yang berkah bisa dicontohkan seperti ini. Misalnya, si Fulan hafal hadits dan ayat mengenai "sabar ketika mendapat musibah", bahkan tidak hafal akan tetapi hanya mengingat sepotong perkataan dari sang ustadz atau dari gurunya mengenai "sabar ketika mendapatkan musibah", perkataannya misalnya "orang yang sabar akan disayang Allah, dan Allah akan membantu menyelesaikannya, jadi harus ridha dengan takdir yang Allah berikan". Ketika mendapat musibah, si fulan mengingat apa yang pernah dikatakan sang Ustadz, akhirnya ia bisa sabar menghadapinya serta tetap bahagia dengan takdir Allah. Itulah ilmu yang berkah, meskipun sedikit ilmunya tapi berkah.

Dari contoh di atas, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa dari contoh pertama ilmu itu tidak berkah, padahal ilmu yang ia miliki sangatlah banyak. Sedangkan dari contoh kedua si Fulan hanya memiliki ilmu sedikit, tapi kenapa yang sedikit ini justru bisa berkah? Berikut ini jawabannya.

Penyebab Ilmu Tidak Berkah dan Tidak Bermanfaat

1. Tidak ada niat yang ikhlas dalam menuntut ilmu

Dalam menuntut ilmu harus ada niat yang ikhlas. Jika menuntut ilmu hanya untuk kesombongan dan bertujuan agar dipuji banyak orang, maka itulah yang akan didapatkan. Artinya, kita akan tetap mendapatkan pujian dari banyak orang, akan tetapi tidak mendapatkan keberkahan atas ilmu yang telah kita pelajari. Dan hal itu pun tidak akan bertahan lama. Mengapa demikian? Karena seseorang akan mendapatkan ganjaran sesuai niatnya.

Nabi Muhammad SAW bersabda:

إنما الأعمال بالنية و إنما لكل امرء ما نوى

"Sesungguhnya amal itu sesuai dengan niatnya. Setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan."

Dari hadits di atas, dijelaskan bahwa kita akan mendapatkan hasil dari apa yang telah kita lakukan sesuai dengan niat. Jika niatnya ingin dipuji, maka yang kita dapat hanyalah pujian belaka, bukan keberkahan. Hendaknya kita memperbaiki niat kita dalam melakukan segala hal, terutama niat dalam menuntut ilmu. Dan selalu intropeksi diri baik di awal maupun di tengah-tengah amal kita karena hati dan niat manusia bisa dengan mudah berbolak-balik. Bisa saja sekarang menuntut ilmu dengan niat karena Allah, akan tetapi besok berubah ingin agar dipuji banyak orang. Oleh sebab itu, luruskanlah niat agar tidak mudah berbolak-balik.

2. Kurang adab dalam menuntut ilmu

Adab sangatlah penting dalam segala hal, termasuk dalam menuntut ilmu. Adab juga akan menentukan bagaimana hasil yang akan kita dapat dari apa yang telah kita lakukan. Jika cara meminta dan menuntut ilmu saja sudah salah dan tidak menggunakan adab yang benar, bagaimana bisa kita dapatkan keberkahan ilmu tersebut? Bayangkan saja ketika kita akan meminta atau meminjam uang kepada orang lain, akan tetapi cara kita yaitu dengan membentak, memarahi, atau bahkan merendahkannya, apakah kita akan diberikan uang oleh mereka? Tentu tidak. Itu karena adab kita dalam meminta sudah salah kaprah.

Berikut ini beberapa contoh adab menuntut ilmu yang kurang baik (Sebelumnya maaf apabila menyinggung):
  • Seenaknya terlambat datang dan tidak minta izin dulu. Tapi kalau gurunya terlambat, langsung ditelpon atau SMS: "stadz kajiannya jadi tidak?", seperti halnya sandiwara.
  • Ketika kajian berlangsung, terlalu sering bermain HP, smarphone, atau gadget tanpa ada keperluan yang mendesak atau keperluan yang penting.
  • Selalu memilih tempat duduk yang paling belakang tanpa ada udzur tertentu.
  • Terlalu sering atau banyak bercanda, berisik, atau ribut dengan teman ketika kajian berlangsung.
  • Terlalu fokus dengan ilmu yang dipelajari, namun melupakan adab. Karena ingin cepat diakui di masyarakat dan mendapatkan pujian dari masyarakat, sehingga melupakan akhlaq dan adab yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh gurunya.
Ahmad bin Sinan menjelaskan mengenai majelis Abdurrahman bin Mahdi, guru Imam Ahmad, beliau berkata,

ﻛﺎﻥ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺑﻦ ﻣﻬﺪﻱ ﻻ يتحدث في ﻣﺠﻠﺴﻪ، ﻭﻻ ﻳﻘﻮﻡ ﺃﺣﺪ ﻭﻻ ﻳﺒﺮﻯ ﻓﻴﻪ ﻗﻠﻢ، ﻭﻻ ﻳﺘﺒﺴﻢ ﺃﺣﺪ

"Tidak ada seorangpun berbicara di majelis Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada seorangpun yang berdiri, tidak ada seorangpun yang mengasah/meruncingkan pena, tidak ada yang tersenyum."

Arti dari hadits di atas apa? Yaitu semua jama'ah tenang dan fokus dalam mengikuti majelis tersebut. Tidak ribut dan tidak melakukan hal lain selain tenang dan mendengarkan kajian yang ada di majelis tersebut. Itulah adab dalam menuntut ilmu.

3. Hanya berniat mencari wawasan dalam menuntut ilmu

Seperti halnya yang telah dijelaskan di atas, bahwa tujuan dan niat menuntut ilmu adalah karena Allah dan agar kita dapat mengamalkannya dengan baik dan benar. Apabila niatnya sudah berubah, misalnya hanya berniat untuk mencari wawasan saja, dan tidak berniat untuk mengamalkan ilmu tersebut, maka kemungkinan besar tidak akan bermanfaat. Segeralah memperbaiki niat sebelum benar-benar terlanjut lama.

Abu Qilabah berkata kepada Ayyub As Sakhtiyani,

إذَا حَدَثَ لَك عِلْمٌ فَأَحْدِثْ فِيهِ عِبَادَةً وَلَا يَكُنْ هَمُّكَ أَنْ تُحَدِّثَ بِهِ النَّاسَ

"Apabila kamu mendapat ilmu, maka munculkanlah keinginan ibadah padanya. Jangan sampai keinginanmu hanya untuk menyampaikan kepada manusia."

Dari perkataan Abu Qilabah tersebut, dijelaskan bahwa kita dalam menuntut ilmu haruslah diniatkan untuk ibadah. Jangan hanya bertujuan untuk disampaikan kepada semua orang. Jika diniatkan ibadah, insyaallah ilmu kita bisa diamalkan dengan baik dan diajarkan kepada yang lainnya.

4. Jarang menghadiri majelis ilmu

Majelis ilmu sangatlah penting. Kita tidak bisa mengaji atau mencari ilmu hanya dengan membaca tanpa adanya guru yang mengajari. Di mana bisa mendapatkan guru? Tentunya di berbagai majelis ilmu. Datangilah majelis ilmu, dan tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya di dalam majelis tersebut. Karena kita tahu bahwa ilmu itu didatangi, bukan mendatangi kita. Tidak bijak jika secara total kita hanya mengandalkan belajar lewat sosial media yang ilmu tersebut datang kepada kita dengan sendirinya. Ulama dahulu menjelaskan,

ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﺆﺗﻰ ﻭ ﻻ ﻳﺄﺗﻲ

"Ilmu (agama) itu didatangi bukan ilmu yang mendatangi"

Artinya kita harus mencarinya bukan menunggunya. Menunggu tanpa adanya usaha tentu tak akan membuahkan hasil. Maka, jangan ragu, jangan takut, jangan malu, dan jangan sungkan untuk menghadiri majelis ilmu. Karena akan memberikan manfaat yang sangat baik kedepannya bagi kita.

5. Dalam menuntut ilmu tidak secara bertahap dan tidak istiqomah

Dalam menuntut ilmu tidak seenaknya saja. Artinya, tidak semau kita sekarang mau belajar kitab ini, belum katam lalu pindah kitab itu, dan belum katam lagi ingin pindah kitab lainnya. Belajar juga harus dari awal agar paham secara sempurna, jadi tidak langsung langsung belajar dari tengah atau langsung menuju akhir dan tidak sepotong-sepotong.

Lalu bagaimana agar kita bisa belajar atau menuntut ilmu dengan teratur dan istiqomah? Tentunya dengan arahan sang guru. Jadi tidak belajar sendirian dengan pemahaman yang kurang. Dengan adanya guru, kita akan diarahkan, dituntun, dan dijelaskan dengan detail mengenai ilmu yang kita pelajar.

Berikut ini nasihat Syaikh Muhammad Shalih bin Al-'Utsaimin rahimahullahu berikut:

ﺃﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻛﺘﺎﺏ ﻧﺘﻔﺔ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﻛﻞ ﻓﻦ ﻗﻄﻌﺔ ﺛﻢ ﻳﺘﺮﻙ؛ ﻷﻥ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻀﺮ ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ، ﻭﻳﻘﻄﻊ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻷﻳﺎﻡ ﺑﻼ ﻓﺎﺋﺪﺓ، ﻓﻤﺜﻼً ﺑﻌﺾ ﺍﻟﻄﻼﺏ ﻳﻘﺮﺃ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺤﻮ : ﻓﻲ ﺍﻷﺟﺮﻭﻣﻴﺔ ﻭﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﻣﺘﻦ ﻗﻄﺮ ﺍﻟﻨﺪﻱ، ﻭﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻷﻟﻔﻴﺔ . .. ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ : ﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﺯﺍﺩ ﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻨﻊ، ﻭﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﻋﻤﺪﺓ ﺍﻟﻔﻘﻪ، ﻭﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﻐﻨﻲ ، ﻭﻣﺮﺓ ﻓﻲ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﻤﻬﺬﺏ، ﻭﻫﻜﺬﺍ ﻓﻲ ﻛﻞ ﻛﺘﺎﺏ، ﻭﻫﻠﻢ ﺟﺮﺍ ، ﻫﺬﺍ ﻓﻲ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻻ ﻳﺤﺼﻞُ ﻋﻠﻤﺎً، ﻭﻟﻮ ﺣﺼﻞ ﻋﻠﻤﺎً ﻓﺈﻧﻪ ﻳﺤﺼﻞ ﻣﺴﺎﺋﻞ ﻻ ﺃﺻﻮﻻً

"Janganlah mempelajari buku sedikit-sedikit, atau setiap cabang ilmu sepotong-sepotong kemudian meninggalkannya, karena ini membahayakan bagi penuntut ilmu dan menghabiskan waktunya tanpa faidah. Misalnya: Sebagian penuntut ilmu memperlajari ilmu nahwu, ia belajar kitab Al-Jurumiyah sebentar kemudian berpindah ke Matan Qathrun nadyi kemudian berpindah ke Matan Al-Alfiyah. Demikian juga ketika mempelajari fikih, belajar Zadul mustaqni sebentar, kemudian Umdatul fiqh sebentar kemudian Al-Mughni kemudian Syarh Al-Muhazzab, dan seterusnya. Cara seperti Ini umumnya tidak mendapatkan ilmu, seandainya ia memperoleh ilmu, maka ia tidak memperoleh kaidah-kaidah dan dasar-dasar."

Itulah beberapa penyebab mengapa ilmu tidak berkah dan tidak bermanfaat setelah kita mempelajarinya. Hal itu kembali lagi pada niat kita ketika akan memulai menuntut ilmu. Apabila niatnya benar, maka hasilnya akan benar dan bermanfaat.

Terima kasih sudah berkunjung, terima kasih sudah mau membaca, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Sumber: muslim.or.id


0 komentar