Tips Memilih Kriteria Calon Istri yang baik dalam Islam

Kriteria Calon Istri yang baik dan Tips Memilihnya dalam Islam
Kriteria Istri yang Baik dalam Islam

Pintuislami.com - Kriteria dan tips memilih istri. Dalam memilih seseorang untuk dijadikan pendamping hidup memang tidak boleh sembarangan. Kita perlu tahu calon yang seperti apa sebenarnya baik menurut islam. Yaitu calon yang memiliki kriteria sejalan dengan islam ahlussunnah wal jama'ah. Jadi, tidak hanya sekedar memilih yang penting islam. Tapi juga harus dilihat, apakah islamnya itu islam beneran atau hanya islam ktp saja.

Jika berbicara tentang kriteria calon yang sejalan dengan islam, memang hal ini tidak mudah. Kita perlu mempertimbangkan sebelum menentukan. Harus ada pertimbangan dalam memilih calon, sebenarnya calon seperti apa dan siapa yang cocok untuk menemani hidup kita. Tentunya hidup dalam lingkungan islam.

Baca juga : Cara Mendapatkan Cinta dari Rasulullah SAW

Memang, memilih pasangan merupakan urusan perasaan, biasanya ketika menemukan seseorang yang dirasa cocok, maka akan mengabaikan hal-hal yang seharusnya menjadi kriteria wajib. Padahal kriteria ini dapat menentukan baik tidaknya kelangsungan keluarga kelak. Meskipun kita menemukan calon istri yang dirasa cocok untuk kita, kita juga jangan langsung menyetujui atau memilihnya. Lihatlah, apakah dia sudah masuk dalam kriteria calon istri menurut islam?

Setiap pria pasti memiliki impian untuk mempunyai istri yang baik ketika kelak menikah. Hal ini merupakan impian yang wajar dan logis dimiliki oleh semua pria. Karena istri merupakan manusia pendamping yang kelak akan mendampinginya seumur hidup, serta menyayangi dan mendidik anak-anaknya. Banyak sekali kriteria wanita baik yang layak untuk dijadikan seorang istri. Tentunya kriteria istri yang seusai dengan apa yang telah dijelaskan atau dianjurkan dalam ajaran Islam, baik dari firman Allah SWT di dalam Al-Qur’an maupun sabda Nabi Muhammad SAW di dalam Hadits. Berikut ini beberapa kriteria calon istri yang baik menurut islam:

1. Taat beragama (Sholehah)

Kriteria yang pertama yang perlu dipilih adalah wanita yang beragama, tentunya yang beragama islam. Wanita yang taat beragama dalam islam biasa disebut dengan istilah 'wanita sholehah'. Seperti yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam salah satu hadits yang artinya:

"Wanita itu dinikahi atas empat perkara: adakalanya karena hartanya, karena kecantikannya, ada juga karena nasabnya, dan karena agamanya. Maka nikahilah wanita karena agamanya, maka dirimu akan selamat." (H.R. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits di atas, memang wanita dinikahi karena agamanya berada di urutan terakhir. Tapi yang perlu kita tahu, hal itu perlu diutamakan. Ketika kita ingin mencari calon istri, carilah calon yang benar-benar beragama dan taat kepada agamanya, dalam artian juga taat kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, Ulama', Orang tua, dan taat kepada guru-gurunya. Serta calon yang selalu menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.

2. Berasal dari keluarga yang baik

Dalam memilih calon istri, anda juga perlu melihat keluarganya seperti apa, apakah dia berasal dari keluarga yang baik? atau justru sebaliknya? Tentunya yang dimaksud berasal dari keluarga yang baik di sini ialah dilihat dari bagaimana keadaan silsilah keturunannya. Kriteria ini juga senada dengan hadits pada poin 1, di mana dalam hadits tersebut juga dijelaskan “karena keturunannya”.

Dari hadits itu sudah jelas bahwa wanita yang baik untuk dijadikan istri adalah wanita yang berasal dari keturunan atau keluarga yang baik. Di samping itu, wanita yang berasal dari keturunan atau keluarga yang baik biasanya juga berasal dari lingkungan yang baik pula. Dengan kata lain, bukan hanya lingkungan keluarga, akan tetapi juga lingkungan masyarakatnya seperti apa. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan.

3. Wanita yang penyabar

Dalam islam, sabar adalah salah satu sifat yang sangat perlu untuk dimiliki setiap orang. Dan ini berlaku bukan hanya bagi anda, tapi juga bagi calon istri anda. Oleh sebab itu, carilah dan pilihlah calon istri yang memiliki sifat penyabar terhadap segala permasalahan. Di samping itu, Allah SWT juga menjelaskan dalam salah satu firman-Nya yang artinya:

"Allah menjadikan istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim."" (Q.S. At-Tahriim: 11).

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa istri yang selalu sabar dalam menghadapi perilaku suaminya akan membantu mempertahankan keutuhan rumah tangga. Yang mana dalam kasus di atas, istri Fir'aun sangat sabar menerima dan menghadapi kekejaman suaminya sendiri terhadap dirinya. Ia tetap tabah menghadapi kekejaman suaminya sendiri dan hanya berpasrah diri kepada Allah SWT. Bahkan karena sifat sabarnya yang luar biasa, istri Fir'aun diangkat drajatnya hingga drajat yang tertinggi diantara para wanita lainnya.

4. Wanita yang Amanah

Amanah adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh orang yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, Anda (pria) pasti mau apabila istri Anda adalah orang yang amanah, orang yang dapat dipercaya. Mengapa harus memilih calon istri yang amanah? Berikut ini penjelasan dalam firman Allah SWT:

"…Oleh sebab itu, wanita yang shalih ialah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara (dirinya dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah (menyuruh) memeliharanya.." (Q.S. An-Nisa': 34).

Selain firman Allah, ada juga hadits Nabi SAW yang menjelaskan tentang calon istri amanah. Nabi Muhammad SAW bersabda artinya:

"Sebaik-baiknya istri, yaitu istri yang menyenangkanmu ketika kamu melihatnya, taat kepadamu ketika kamu menyuruhnya, mau menjaga dirinya sendiri dan hartamu ketika kamu pergi." (H.R. Thabarani dari Abdullah bin Salam).

Dalam ayat dan hadits di atas dijelaskan bahwa istri yang baik itu adalah istri yang amanah. Artinya, yaitu istri yang mau menjaga dirinya sendiri dan juga apapun yang menjadi milik suaminya. Tentu saja bukan hanya harta dan benda, akan tetapi juga kepercayaan dan rasa cinta dari sang suami.

5. Taat kepada Suami

Kriteria ini sebagaimana tercantum pada hadits di poin 4 yang menyebutkan bahwa, sebaik-baiknya istri salah satunya ialah "taat kepadamu ketika kamu menyuruhnya". Sudah sangat jelas bahwa istri yang baik adalah istri yang taat kepada suaminya, selalu menuruti apa yang disuruh suami, dan tidak pernah membantah atau mengelak (kecuali disuruh melakukan hal negatif). Secara logika, anda pun pasti ingin memiliki istri yang taat kepada anda bukan? Sebab, istri yang taat kepada suami akan membantu mempertahankan keharmonisan rumah tangga.

6. Wanita yang cantik

Dalam mencari calon istri, kita juga tidak boleh lupa memandang kecantikannya. Pilihlah wanita yang menurut anda cantik. Kriteria ini juga senada dengan hadits pada poin 1, di mana dalam hadits tersebut juga dijelaskan "karena kecantikannya". Hal ini terlihat logis, karena semua pria pasti menginginkan istri yang cantik. Sehingga akan menyenangkan hati apabila dipandang.

Meskipun sebenarnya kecantikan bernilai relatif. Artinya, semua pria memiliki selera dan definisinya sendiri tentang cantik atau tidaknya wanita. Namun tetap saja kecantikan tetap menjadi kriteria yang dianjurkan, hal ini ditujukan agar pria tidak mudah berpaling dari istrinya kelak setelah menjadi pasangan suami istri.

7. Yang memikat hati

Yang dimaksud dengan memikat hati di sini bukan hanya sekedar kecantikannya saja, akan tetapi lebih dari itu. Berikut ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya:

"Jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi…" (Q.S. An-Nisa': 3).

Dalam ayat di atas dapat diambil sebuah ibarah (pelajaran) agar para pria memilih wanita yang memikat untuk dijadikan istrinya. Yang mana, sebenarnya kata-kata yang digunakan dalam ayat tersebut ialah 'thaaba'. Kata ini memiliki arti 'baik'. Seperti halnya 'thayyib' atau 'thaabat', kedua kata tersebut berasal dari kata 'thaaba' yang berarti 'baik'.

8. Wanita yang masih perawan

Yang dimaksud wanita masih perawan adalah wanita yang belum pernah sekalipun bersetubuh dengan pria lain sebelum menikah dengan Anda. Lalu bagaimana kalau masalah darah keperawanannya yang tidak keluar? Hal itu tidak boleh dijadikan patokan. Sebab, mungkin saja sang wanita pernah mengalami jatuh atau kecelakaan yang menyebabkan dinding darah keperawanannya pecah. Karena hal ini bisa terjadi pada wanita manapun.

Alasan mengapa pria harus memilih wanita yang masih perawan untuk dinikahi adalah sebagai berikut:
  • Biasanya dia yang masih perawan akan sangat menyayangi suaminya, karena memang lebih mengutamakan cintanya kepada suaminya sendiri daripada kepada pria lain.
  • Pada dasarnya pria tidak suka jikalau wanitanya tersentuh oleh pria lain. Maka dengan memilih wanita yang masih perawan, pria akan merasa sangat menyayanginya.
  • Wanita yang masih perawan tentu akan merindukan kehadiran kehadiran suaminya. Dan hal ini akan terjadi pada suami pertamanya.
Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkapnya anda bisa buka kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Imam Al-Ghazali.

9. Wanita yang subur atau mampu memberikan keturunan

Selain memilih wanita yang masih perawan, kita juga perlu memperhatikan kesuburannya. Artinya, pilihlah wanita yang mampu melahirkan keturunan. Hal ini ditujukan agar kita kelak memiliki keturunan yang bisa meneruskan perjuangan kita. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya:

"Nikahilah wanita yang penyayang dan subur karena aku berbangga dengan banyaknya umatku pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud, senada dengan An Nasa'i dan Ahmad)

"Nikahilah ibu-ibu dari anak-anak (yaitu wanita-wanita yang bisa melahirkan) karena sesungguhnya aku akan membanggakan mereka pada hari kiamat." (HR. Ahmad)

Dalam kedua hadits di atas initinya sama. Yaitu menganjurkan kita untuk memilih wanita yang subur, yaitu wanita yang dapat melahirkan keturunan. Artinya, yaitu bukan wanita yang tidak bisa melahirkan, atau istilah dalam bahasa jawa yaitu 'gabuk'. Sebab, biasanya jika istri tidak bisa melahirkan keturunan, dalam kehidupan rumah tangganya akan timbul masalah, yang mana masalah itu akan mengkaitkan kema*dulannya tersebut.

10. Sudah Baligh

Dalam memilih calon istri, tentu kita tidak boleh menikahi wanita yang statusnya masih anak-anak yang masih dibawah usia atau yang belum baligh. Artinya, ketika kita akan memilih calon istri, maka pilihlah wanita yang sudah cukup usia, sudah baligh, sudah bisa membedakan baik dan buruk, dan sudah terlihat dewasa.

Dalam segi hormonal, wanita yang baligh bisa kita temui pada wanita yang sudah mengalami menstruasi, yaitu di usia 9 tahun ke atas. Kalau belum juga mengalami menstruasi, maka ditunggu hingga usia 15 tahun setelah itu sudah masuk pada usia balig. Akan tetapi untuk urusan pernikahan, di Indonesia sendiri, peraturan wanita boleh menikah minimal berusia 20 tahun. Maka kita harus mentaati peraturan undang-undang negara. Sebab, Allah SWT dan RasulullahNya juga mengajarkan kepada kita untuk menaati peraturan dalam suatu negara yang ditinggali, demikian juga kita harus taat kepada pemimpin (pemimpin yang baik atau menyeru kebenaran dalam islam).

11. Sekufu atau sederajat

Yang dimaksud sekufu atau sederajat adalah wanita yang sebanding dengan kita dan keluarga kita dalam hal kedudukan, agama, nasab, dan hal-hal lainnya. Apakah kekayaannya juga harus sederajat dengan kita (pria)? Tidak harus memang, tapi lebih dianjurkan yang sederajat. Sebab, kebanyakan yang terjadi, jika wanita lebih kaya dari pria, si wanita itu akan meremehkan atau merendahkan si pria.

Namun yang lebih utama dalam kriteria sekufu adalah sebanding dalam hal agamanya. Artinya, sama-sama beragama Islam, di samping itu juga perlu sebanding ketaatan dan akhlak atau tingkah lakunya. Berikut ini telah dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang artinya:

"Wanita-wanita yang keji untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yang keji pula. Wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik pula." (Q.S. An-Nur: 26).

12. Tidak bersifat materialistis

Siapa yang ingin menikah dengan wanita matrealistis? Jangankan menikah, pacaran dengan wanita matre atau materialistis pun tidak mau, apalagi dalam pernikahan dan menjadikannya istri. Hal ini sudah jelas bahwa setiap pria ingin memiliki istri yang tidak tergila-gila dengan harta benda duniawi. Nikahilah wanita yang tidak materialistis, bahkan Rasulullah SAW pun menjelaskan dalam sabdanya, yang artinya sebagai berikut:

"Ada empat perkara, siapa yang mendapatkannya merupakan kebaikan dunia dan akhirat, yaitu hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berdzikir, bersabar ketika mendapatkan musibah, dan perempuan yang mau dinikahi bukan bermaksud menjerumuskan (suaminya) ke dalam perbuatan maksiat dan bukan menginginkan hartanya." (H.R. Thabarani, adapun hadits ini adalah Hadits Hasan (baik)).

Hadits diatas menjelaskan bahwa orang yang akan mendapatkan kebaikan di dunia dan di akhirat adalah orang yang dapat menjalankan 4 perkara tersebut, diantaranya adalah menikahi wanita yang tidak memiliki maksud menjerumuskan suami dan wanita yang bukan materialistis.

13. Penyayang dan cerdas

Telah dijelaskan dalam poin 9 bahwa kita harus menikahi wanita yang penyayang. Artinya, wanita yang sayang kepada kita, yang sayang kepada anak-anak kita nanti, sayang kepada orang tua, kepada keluarga, tetangga, dan semua orang. Selain itu juga tidak boleh melupakan kecerdasannya. Sebab, kecerdasan seorang ibu akan mempengaruhi kecerdasan anak-anaknya kelak. Oleh sebab itu kita perlu memilih wanita yang cerdas untuk dijadikan istri

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa istri adalah orang yang pertama dan paling lama merawat anak-anak. Bahkan pepatah pun mengatakan bahwa ibu adalah guru pertama bagi sang anak. Ini menunjukkan pentingnya kecerdasan seorang ibu agar menurun pada sang anak.

14. Mampu menjaga hubungan kekerabatan

Yang dimaksud di sini adalah wanita yang senang untuk menjalin ikatan kekerabatan yang dimilikinya, entah kerabat dari pihak suami maupun kerabat dari pihaknya sendiri. Dan yang terpenting adalah ia selalu menjaga jalinan atau hubungan kekerabatan agar tidak terputus dan agar tetap awet langgeng.

Pada intinya adalah, wanita yang senang menyambung tali silaturahmi dengan para kerabat atau saudara yang ada, baik dari pihak suami maupun dari pihaknya sendiri, itu adalah wanita yang baik dan cocok untuk anda jadikan seorang istri atau pendamping hidup.

15. Kaya

Kriteria wanita kaya ini juga dijelaskan pada hadits yang terdapat pada point 1, di mana dalam hadits tersebut juga dijelaskan "karena hartanya". Wanita yang dimaksudkan disini adalah wanita yang memiliki harta kekayaan. Hal ini ditujukan agar para pria tidak lagi tergiur dengan harta miliki wanita lain, karena istri di rumah sudah memiliki kekayaan yang cukup.

Tapi yang perlu diingat adalah, jangan menjadikan kekayaan sebagai patokan untuk memilih istri. Patokan awal yang perlu anda pegang adalah 'agama'. Adapun kekayaan adalah nomor sekian. Selain itu, anda juga harus melihat kekayaan anda sendiri. Artinya, dinjurkan bagi anda untuk memilih calon istri yang sekufu atau sederajat dengan anda, salah satunya adalah dalam hal harta kekayaan.

16. Bukan dari kerabat dekat

Memang tidak ada larangan untuk menikahi kerabat dekat, akan tetapi menikahi kerabat dekat tidaklah dianjurkan selama masih ada orang lain. Kerabat dekat di sini ialah seperti sepupu dari ayah atau ibu yang memang masih halal untuk dinikahi. Tetapi secara psikologis dan biologis biasanya seorang pria akan kurang bernafsu dengan wanita yang masih memiliki kekerabatan dengannya. Sedemikian sehingga mempengaruhi keturunan yang akan dihasilkan nanti.

Apabila anda menikahi wanita dari orang lain tentunya akan sangat menguntungkan anda dan keluarga anda. Karena akan memperluas tali silaturahmi sesama umat Islam sebab adanya tali pernikahan. Hal yang demikian ini juga sudah dijelaskan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Imam Al-Ghazali.

Itulah beberapa kriteria calon istri yang perlu diperhatikan. Jadi kesimpulannya adalah, dalam memilih seorang istri, kita tidak boleh sembarangan, kita harus memperhatikan anjuran dan larangan yang telah diberikan. Dengan memperhatikan dan mentaati anjuran dan larangan, insyaallah kita akan menemukan istri yang terbaik dunia dan akhirat. Amin.

Terima kasih telah berkunjung, dan terima kasih telah membaca. Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi anda semua. Terima kasih.


0 komentar