Makna (Filosofi) "Om Telolet Om" dalam Dunia Islam

Makna (Filosofi) "Om Telolet Om" dalam Dunia Islam
Anak-anak kecil berteriak Om Telolet Om di pinggir jalan

Pintuislami.com - Rahasia "OM TELOLET OM". Fenomena om telolet om memang sudah tidak asing lagi bagi kita. Awal terkenalnya klakson telolet, memang sempat menjadi perdebatan di kalangan pemerintah. Ada pihak yang membolehkan, dan ada juga yang melarangnya. Namun para masyarakat justru menyukai klakson tersebut, terutama anak-anak. Sebab, adanya klakson telolet itu sekarang menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak. 

Lihat saja, awal terkenalnya klakson telolet om, banyak anak-anak bahkan orang tua yang baris di pinggir jalan raya sembari berteriak "om telolet om", hanya ingin mendengar bunyi klakson telolet. Jika kita berfikir, sebenarnya apa sih untungnya mendengar bunyi klakson tersebut? Mungkin sampai saat ini masih menjadi pertanyaan yang belum terjawabkan, mengapa juga orang-orang pada berteriak "om telolet om"? Apa untungnya jika klakson itu dibunyikan?

Nah, adanya pertanyaan tersebut, para ulama berpesan kepada kita agar mentakwili fenomena om telolet om tersebut. Mengapa harus di takwili atau disikapi? Sebab, om telolet om sudah mendunia, bukan hanya di Indonesia saja tapi juga di seluruh dunia.

Dalam ceramahnya Habib Umar Muthohar, beliau berkata "Saya pulang dari Surabaya lewat jalan tol, bocah cilik-cilik nek pinggir dalan iku ada yang berteriak 'om telolet om', ada yang menggunakan tulisan. Niku kulo mbuka jendelo kulo gembor 'telolet telolet'... Ora paaayu. Seng kepengen dirungokno iku namung klakson, seng diharapke bunyi nopo? Namung bunyi klakson. Masyaallah.. Saya berfikir, la niku maknane nopo?".

Dari dawuh Habib Umar Muthohar diatas, beliau memikirkan bahwa arti dari klakson telolet itu apa?, mengapa orang-orang termasuk anak kecil meminta agar klakson telolet itu dibunyikan?, apa untungnya jika klakson itu dibunyikan?.

Didapat kesimpulan dari ceramah Habib Muthohar kala itu, bahwa ternyata makna atau filosofi dari klakson telolet itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pengingat jikalau kita dalam beragama dan berakhlaq atau bersikap kurang benar

Bunyi klakson telolet ditujukan untuk mengingatkan orang-orang di tengah jalan yang berkendaranya kurang baik, kurang benar, atau sebagainya. Klakson dibunyikan agar orang tersebut bisa berkendara lebih baik, lebih benar, dan tidak mengganggu pengendara lainnya di jalan.

Dan itu bisa diartikan bahwa kita dalam kehidupan bernegara, bermasyarakat, dan beragama itu perlu diklakson (perlu diingatkan). Kenapa harus diklakson atau diingatkan? Karena mungkin saja kita dalam berakhlaq, dalam bertingkah, dan dalam bersosialisasi itu kurang benar dan terkadang sembarangan tanpa memperhatikan aturan. Kalau kita dalam bersosialisasi, berakhlaq, dan bertingkah kurang benar atau tidak mengikuti aturan, tentu akan dapat merugikan orang lain dan bahkan dapat menyakiti hati orang lain. Oleh sebab itu kita perlu diingatkan atau diluruskan, agar kita dalam berakhlaq bisa lebih benar dan bisa lebih baik dari sebelumnya. Itulah gunanya klakson (pengingat).

Jadi, kita hidup bernegara, beragama, dan bermasyarakat itu diibaratkan berkendara di jalan raya. Jika kita tidak benar dalam berkendara, maka perlu diklakson atau ditelolet atau diingatkan agar menjadi lebih benar lagi.

2. Siapa yang menjadi supirnya para masyarakat? Yaitu para ulama', umaro', pimpinan penjabat, dan lain sebagainya

Yang berhak memegang klakson adalah sopir, bahkan kernet pun tidak berhak memegang klakson. Karena yang menyetir bus adalah si supir bukan si kernet, si kernet hanya sampai batas pada mengingatkan agar si supir membunyikan klaksonnya.

Sama halnya dalam kehidupan bernegara, beragama, bersosialisasi, dan berakhlaq di negara ini. Ulama', umaro', dan lain sebagainya adalah sopir bagi masyarakat di negara ini. Beliau-beliau lah yang nantinya akan membunyikan klakson (yang mengingatkan) atau yang menuntun para masyarakat agar dapat berjalan dengan benar (agar bisa berakhlaq baik). Dan kita sebagai masyarakat atau sebagai umat pun harus patuh jika diingatkan oleh para ulama dan umaro. Sebab, jika kita sedang diingatkan itu sama dengan kita sedang dituntun menuju jalan yang baik dan benar.

Dalam hal ini, ulama dan umaro memang menjadi supir para masyarakat. Namun bukan berarti kita harus lepas setang dan menunggu para ulama atau umaro mengingatkan kita. Ulama dan umaro menjadi supir atau pengingat secara umum, dan kita perlu supir secara pribadi, siapa supir pribadi kita? yaitu diri kita sendiri. Kita juga harus menyetir diri kita sendiri dan membunyikan klakson untuk diri kita sendiri. Jika kita salah, maka segeralah untuk membunyikan klakson itu untuk diri kita sendiri, yaitu mengingatkan diri sendiri agar menuju jalan yang benar.

Semoga dengan kita mengetahui filosofi atau makna dari "om telolet om" ini, kita bisa menjadi sadar. Yaitu sadar bahwa kita memiliki banyak kesalahan yang perlu diklakson, perlu diingatkan, dan perlu untuk diperbaiki. Amin.

Semoga postingan mengenai makna "om telolet om" ini bisa bermanfaat bagi kita. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca.

Sumber:
Santri.net
beritasantri.net


0 komentar