Kemanakah Perginya Air Bekas Memandikan Jasad Rasulullah SAW?

Kemanakah Perginya Air Bekas Memandikan Jasad Rasulullah SAW??
Kemanakah Perginya Air Bekas Memandikan Jasad Rasulullah SAW? - Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi

Pintuislami.com. Pada zaman dahulu, sebelum tahun 90-an, belum ada sejarah yang membahas mengenai perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah. Entah itu airnya disimpan, atau mengalir seperti halnya memandikan jenazah pada umumnya, atau airnya ditarik oleh Allah ke atas langit. Hal ini menjadi suatu pertanyaan yang membingungkan, karena belum ada sejarah yang membahasnya pada zaman itu.

Hingga tiba pada kisaran tahun 90-an, diadakan seuatu jam'iyah atau perkumpulan atau pertemuan para ulama di seluruh dunia yang membahas mengenai permasalahan yang belum terpecahkan atau permasalahan yang masih diperdebatkan di kalangan umat islam, yaitu Muktamar Tingkat Dunia yang saat itu diadakan di negara Mesir. Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi adalah salah satu tokoh ulama Mesir yang juga diundang dalam acara Muktamar tersebut.

Ketika muktamar itu berlangsung, Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi melihat pada seorang pengurus muktamar (juga merupakan pimpinan muktamar) yang juga termasuk tokoh ulama. Syaikh Mutawalli melihat pada diri pengurus itu telah mengalami perubahan besar dari segi keilmuan dan kemakrifatan yang berbeda dari waktu ke waktu sebelumnya. Melihat hal itu, Syaikh Mutawalli akhirnya berdiri dan menuju ke podium untuk berkata. Perkataan beliau merupakan suatu pertanyaan yang ditujukan kepada salah satu pengurus atau pemimpin muktamar tadi.

Pertanyaannya yaitu "Kemanakah perginya air bekas untuk memandikan jasad atau jenazah Rasulullah SAW?".

Mendengar pertanyaan dari Syaikh Mutawalli tersebut, semua peserta muktamar terdiam. Semua peserta muktamar yang merupakan para ulama perwakilan dari berbagai negara itu tidak ada yang mampu menjawab. Mengapa demikian? Apakah semua ulama termasuk pimpinannya itu tidak tahu?

Mereka semua terdiam karena memang pertanyaan itu belum pernah dibahas dalam sejarah islam sebelumnya. Dan itu merupakan pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas dalam muktamar kali ini. Semua pengurus muktamar mencoba untuk merunding atau bermusyawarah untuk menjawab satu pertanyaan dari Syaikh Mutawalli. Namun jawabannya belum juga ketemu hingga muktamar atau perkumpulan itu berakhir.

Akhirnya, pengurus atau pimpinan muktamar tersebut berkata kepada Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi "Beri kami waktu untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. Insyaallah pertemuan muktamar besok sudah tahu jawabannya".

Setelah muktamar itu selesai, pengurus atau pimpinan muktamar itu pun pulang. Beliau tidak melakukan apa-apa kecuali menuju perpustakaan pribadinya. Pengurus atau pimpinan muktamar itu langsung membuka seluruh kitab satu per satu yang ada di perpustakaan tersebut untuk mencari jawabannya dari pertanyaan Syaikh Mutawalli.

Pimpinan muktamar terus mencari dan mencari jawabannya namun tak ada satupun kitab yang menerangkan atau menjelaskan mengenai pertanyaan tersebut. Hingga akhirnya beliau itu kelelahan dan keletihan lalu tertidur.

Dalam tidurnya, beliau bermimpi bertemu dengan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam yang sedang bersama dengan seseorang yang membawa lentera/lampu pijar/lampu pelita. Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, beliau langsung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya langsung kepada Rasulullah mengenai pertanyaan yang ada di muktamar tadi.

Beliau bertanya "Ya Rasulullah, kemanakah perginya air yang dulu pernah dipakai untuk memandikan jasad atau jenazah engkau, ya Rasulallah?".

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah pun mengisyaratkan agar pimpinan muktamar itu bertanya kepada seorang laki-laki pemegang lentera tersebut "Tanyalah kepada Shohibul Qindil (Lentera) itu". Lalu pimpinan muktamar itu pun bertanya kepada seorang laki-laki yang membawa lentera. Dan laki-laki pembawa lentera itu pun menjawab "Air tersebut naik ke atas langit dan turun kembali ke bumi bersama dengan hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka disitulah yang di kemudian hari akan didirikan atau dibangun sebuah masjid".

Keesokan harinya, di hari kedua muktamar berlangsung, pengurus atau pemimpin muktamar itu berdiri dan memberikan jawaban dari pertanyaan Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi mengenai perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah SAW.

Sang pimpinan muktamar itu memberikan jawaban "Saya akan menjawab pertanyaan kemarin dari Syaikh Mutawalli mengenai air bekas memandikan jasad Rasulullah. Jawabannya adalah, air tersebut naik ke atas langit dan turun kembali ke bumi bersama dengan hujan. Setiap tanah yang dijatuhi air tersebut, maka disitulah akan dibangun sebuah masjid di kemudian hari".

Mendengar jawaban dari pimpinan muktamar, semua peserta muktamar yang hadir pun kaget dan terkagum-kagum. Lalu Syaikh Mutawalli pun kembali bertanya "Darimana engkau mengetahui jawaban tersebut?". Dan pimpinan muktamar itu menjawab "Dari seseorang yang saat itu sedang bersama dengan Rasulullah dalam mimpiku". Lalu Syaikh Mutawalli bertanya kembali "Apakah orang tersebut membawa Qindil?" "Bagaimana engkau tahu?" Tanya balik sang pimpinan dengan wajah kagum. "Karena akulah Shohibul Qindil tersebut" Jawab Syaikh Mutawalli.

Kisah tersebut amat masyhur di kalangan ulama, terlebih di Mesir. Meskipun banyak saksi mata yang menyaksikan langsung peristiwa ini, namun ulama-ulama dari kelompok Wahabi yang kala itu hadir, tidak sedikitpun mempercayai kisah ini, kecuali Syaikh Umar Abdul Kafi.

Syaikh Umar Abdul Kafi mengatakan bahwa beliau telah banyak melihat berbagai karomah dalam diri Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi. Dulu beliau enggan untuk mengakui karomah, karena keyakinan yang dianutnya (faham Wahabi) menolak adanya karomah. Tapi untuk kali ini, Allah telah membukakan hati Syaikh Umar dan menumbuhkan keyakinan dalam diri beliau, sehingga beliau akhirnya mempercayai kisah ini dan mempercayai adanya karomah. Beliau pun akhirnya keluar dari Wahabi dan masuk ke dalam faham Ahlussunnah wal Jama'ah.

Itulah kisah singkat dari Syaikh Mutawalli Asy-Sya'rawi dalam perkumpulan muktamar yang sekaligus ditemukannya jawaban mengenai perginya air bekas memandikan jasad Rasulullah. Semoga dari dan adanya kisah ini, kita bisa lebih yakin dan lebih mantab lagi mengenai adanya karamah pada ulama, habaib, atau kekasih-kekasih Allah.

Semoga postingan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terimakasih sudah berkunjung dan mau membaca.

*) Kisah ini diceritakan sendiri oleh ulama yang menjadi rois mutamar tersebut. (Nasyit Manaf)

Sumber: 
- Azhar TV


0 komentar