Membeli Surga dengan Pengorbanan | Kisah Sahabat Abu Dahdah

Membeli Surga dengan Pengorbanan | Kisah Sahabat Abu Dahdah
Membeli Surga dengan Pengorbanan | Kisah Sahabat Abu Dahdah

Pintuislami.com - Membeli surga dengan pengorbanan. Ini adalah kisah dari seorang Sahabat Abu Dahdah yang menjual seluruh kebuh kurma milikinya hanya untuk mendapatkan satu pohon kurma untuk diberikan kepada anak yatim. Mengapa Sahabat Abuh Dahdah mau mengorbankan seluruh kebun kurmanya untuk membeli satu pohon kurma tersebut lalu diberikan kepada anak yatim? Sebab, telah dijanjikan bahwa jikalau sahabat Abu Dahdah mau membeli pohon kurma itu dan diberikan kepada anak yatim, maka Abu Dahdah akan mendapatkan satu pohon kurma di surga. Berikut ini kisah lengkapnya:

Kisah ini bermula ketika ada seorang anak yatim yang mendapatkan warisan sebidang kebun kurma. Anak yatim itu lalu membangun tembok mengelilingi kebun kurma miliknya untuk membatasi antara kebun kurma miliknya dengan kebun kurma miliki tetangga. Saat membangun tembok dan sampai di perbatasan, ada sebuah pohon kurma yang tepat tumbuh di tengah-tengah perbatasan. Anak yatim itu pun bingung dan memilih sementara berhenti untuk tidak meneruskan pembangunan tembok.

Lalu anak yatim itu mendatangi pemilik pohon kurma tersebut dan berkata "Ya Fulan, aku sedang membangun tembok perbatasan antara tanah milikku dengan tanah milikmu. Akan tetapi ada satu pohon kurma yang berada di perbatasan tanah kita. Maukah engkau menjual pohon kurma itu untuk ku?". Lalu pemilik pohon kurma itu menjawab "La (tidak), aku tidak akan menjual pohon kurma itu". Mendengar jawaban dari pemilik pohon kurma itu, si anak yatim itu pun bingung dan akhirnya mendatangi Rasulullah SAW.

Setelah bertemu dengan Rasulullah SAW, anak yatim itu berkata kepada Rasulullah "Ya Rasulullah, saya adalah anak yatim yang mendapatkan warisan sebidang kebun kurma. Saya ingin membangun tembok perbatasan antara kebun milik saya dengan kebun milik tetangga. Tapi ada satu pohon kurma milik tetangga yang tepat berada di perbatasan. Aku sudah berkata kepadanya agar dia menjual pohon kurma tersebut kepada saya, tapi dia tidak mau menjualnnya. Bagaimana ini ya Rasulullah?"

Mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan dari si anak yatim tersebut, lalu Rasulullah SAW bersama anak yatim tersebut mendatangi pemilik pohon kurma. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada pemilik pohon kurma "Ya Fulan, maukah engkau memberikan pohon kurma tersebut untuk anak yatim itu agar ia bisa meneruskan pembangunan temboknya?", "La, tidak, saya tidak akan memberikan pohon kurma ini" jawab si Fulan dengan nada sedikit marah. Lalu Rasulullah berkata kembali "Maukah engkau menjual pohon kurma tersebut untuk anak yatim itu? Jika engkau menjualnya, maka kamu akan mendapatkan satu pohon kurma di surga". Lalu si Fulan itu menjawab "Tidak, saya tidak akan memberikan ataupun menjual pohon kurma ini". Dan akhirnya si Fulan itu pergi meninggalkan Rasulullah SAW dan anak yatim.

Di sisi lain, ternyata ada seorang sahabat bernama Abu Dahdah ra. yang mendengar percakapan antara Rasulullah dengan si Fulan pemilik pohon kurma tersebut. Lalu Abu Dahdah bergegas mendatangi Rasulullah dan berkata "Ya Rasulullah, apakah hal itu juga berlaku untukku? Apakah jika aku membeli pohon kurma itu aku juga akan mendapatkan satu pohon kurma di surga?". Maka Rasulullah menjawab "Na'am, Ya. Itu juga berlaku untukmu".

Mendengar jawaban dari Rasulullah, Abu Dahdah pun langsung bergegas dan segera mengejar pemilik pohon kurma itu dan berkata "Ya Fulan, bukankah engkau mengenal aku? Aku pemilik kebun kurma yang sangat luas dan juga ditumbuhi 600 pohon kurma. Maukah engkau menjual satu pohon kurma milikmu itu dan saya ganti dengan seluruh kebun kurma beserta pohon kurma milikku?" dan orang itu pun mejawab "Ya, saya mau. Saya mau menjual pohon kurma milikku itu kepadamu". Kemudian Abu Dardah berkata kembali "Kalau begitu, saya jual kebun kurma milikku itu untuk kamu, dengan satu pohon kurma milikmu itu".

Setelah berhasil menjual kebun kurma miliknya dan mendapatkan satu pohon kurma tersebut, lalu Abu Dardah kembali menghadap Rasulullah dan berkata "Ya Rasulullah, saya sudah membeli satu pohon kurma tersebut dan akan saya hadiahkan kepada anak yatim itu agar bisa meneruskan pembangunan temboknya. Apakah aku sekarang memiliki satu pohon kurma di surga?" Lalu Rasulullah berulang kali menjawab "Ya, Engkau akan mendapatkan pohon kurma itu di surga".

Dan Rasulullah pun menjelaskannya dalam sabda beliau berikut ini:
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasalam bersabda, "Berapa banyak pohon kurma yang buahnya menjuntai untuk Abu Dahdah di Surga". (Hadits Sahih Riwayat Al-Hakim, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Setelah itu, Abu Dahdah pun langsung berpaling dan meninggalkan Rasulullah untuk menuju ke kebun kurma yang dulu pernah menjadi miliknya. Karena ia tahu kalau istri dan anak-anaknya sedang berada di dalam kebun kurma tersebut. Setelah sampai di depan kebun tersebut, Abu dahdah tidak masuk ke kebun, karena ia tahu kalau kebun itu sudah bukan miliknya lagi. 

Dari luar kebun, Abu Dahdah memanggil istri dan anak-anaknya untuk segera keluar dari kebun tersebut. "Wahai istriku, bawa anak-anak keluar, aku telah menjual kebun ini kepada Allah dan RasulNya". Istri dan anak dari Abu Dahdah pun keluar dari kebun. Abu Dahdah masih melihat anaknya sedang memakan kurma dari kebun kurma yang bukan miliknya lagi. Lalu Abu Dahdah mengeluarkan kurma itu dari mulut anaknya dan dilemparkan kurma itu ke kebun tersebut sembari mengulangi perkatannya "Aku telah menjual kebun kurma ini kepada Allah dan RasulNya". Kemudian Istri Abu Dardah pun membersihkan debu-debu yang masih menempel pada pakaian anaknya sembari berkata "Sungguh ini perdagangan yang sangat menguntungkan".

Itulah kisah dari seorang Sahabat Rasulullah SAW yang bernama Abu Dahdah. Seorang sahabat yang merelakan seluruh kebun beserta seisinya untuk dijual dan ditukar dengan satu pohon kurma. Belum lagi pohon kurma itu lalu diberikan kepada seorang anak yatim yang ingin membangun sebuah tembok perbatasan. 

Seperti itulah kehidupan para sahabat Nabi. Anak didik Rasulullah yang betul-betul mengerti nilai surga. Rela mengorbankan apapun yang dimilikinya untuk mendapatkan surganya Allah SWT.

Berapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita? Sudahkah kita membeli surganya Allah dengan nikmat-nikmat tersebut? Mari kita menjadi Abu Dahdah - Abu Dahdah berikutnya. Meskipun tidak bisa meniru persis seperti apa yang dilakukan Abu Dahdah, setidaknya kita mencoba untuk 'welas asih' atau saling mengasihi, yaitu dengan memberikan apa yang kita punya kepada orang yang membutuhkannya.

Semoga Allah SWT membukakan hati kita agar tidak menjadi orang yang kikir atau pelit, agar kita mau mengorbankan apa yang menjadi milik kita untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan, agar kita tidak ragu-ragu lagi dalam memberikan pertolongan kepara orang lain yang benar-benar membutuhkan.

Semoga postingan tentang kisah Sahabat Abu Dahdah ini bermanfaat untuk kita semua. Terimakasih sudah berkunjung dan membaca.

Sumber: Habib Novel Al-Aydrus


0 komentar