Mendidik Santri dengan Karomah - KH. Abdul Karim Lirboyo

Mendidik Santri dengan Karomah - KH. Abdul Karim Lirboyo
Mendidik Santri dengan Karomah - KH. Abdul Karim Lirboyo

KH. Abdul karim Lirboyo. Di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur. Ada kisah seorang santri yang sukanya keluar malam. Setiap kali santri ingin keluar malam, ia selalu memiliki cara untuk bisa lolos dari pengawasan para pengurus pondok. Malam ke satu, ke dua, ke tiga, dan seterusnya, tak pernah ketahuan pengurus pondok kalau ia sering keluar malam.

Meski para pengurus pondok tidak mengetahui aksi yang dilakukan oleh santri tersebut, namun ternyata anehnya KH. Abdul Karim mengetahui setiap aksi yang dilakukan santri tersebut. Pada malam awal-awalan, Mbah Kyai Abdul Karim membiarkan satri tersebut. Namun karena santri itu sering keluar, akhirnya Mbah Kyai Abdul Karim menuliskan sebuah kata-kata pada kertas dengan tulisan "Kula mboten remen kaleh santri ingkang remen miyos" (Saya tidak suka dengan santri yang suka keluar). Lalu tulisan tersebut ditempelkan dibawah bedug oleh Mbah Kyai Abdul Karim.

Setelah ditempelkan, lalu secara kebetulan santri itu memilih tidur di bawah bedug di malam harinya. Betapa kagetnya santri itu melihat tulisan yang tepat didepan matanya. Santri itu sangat mengenali tulisan pada kertas yang ditempel di bawah bedug, dan itu tulisan Mbah Kyai Abdul Karim. Padahal selama ini santri itu mengira kalau aksinya tidak diketahui oleh siapapun termasuk Mbahk Kyai Abdul Karim. Tapi ternyata tidak, Mbah Kyai Abdul Karim mengetahui semua aksi yang dilakukan santri tersebut. 

Santri itu membaca tulisan dengan penuh rasa kekhawatiran. Setelah membaca tulisan tersebut, santri itu langsung insyaf dan tidak berani keluar malam hari lagi tanpa izin. Akhirnya santri itu benar-benar insyaf dan mengikuti apa kata Mbah Kyai Abdul Karim pada kertas tersebut.

Dari kisah di atas, memang sulit dan bahkan tidak bisa meniru Mbah Kyai Abdul Karim. Akan tetapi, kita bisa meneladani kebijaksanaan dan kearifan Beliau. Kalau kita punya murid yang nakal, punya teman yang nakal, punya saudara yang nakal, atau orang lain yang nakal, jangan pernah mendidiknya dengan cara pemaksaan ataupun kekerasan. 

Memang pemaksaan dalam kadar tertentu akan dapat memberikan hasil yang diinginkan oleh si pemaksa. Tapi disaat bersamaan, orang yang di paksa akan menyimpan bara api yang akan menjadikan sumber bencana di waktu yang akan datang.

Dan juga, biasanya kalau mendidik atau memberitahunya dengan paksaan atau kekerasan, itu sama halnya dengan 'kita ingin memadamkan api tapi menggunakan api'. Tentu saja api itu akan bertambah membesar. Jadi logikanya, kalau ada orang yang suka marah, nakal, sulit dikasih tahu, dan sebagainya, jangan pernah mendidiknya dengan cara memarahi, memaksa, atau dengan kekerasan. Itu hanya akan membuat orang tersebut menjadi lebih nakal dan lebih sulit dikasih tahu.

Semoga kita bisa meniru kebijaksanaan dan kearifan KH. Abdul Karim dalam mendidik santri maupun dalam segala hal. Amin.

Wallahua'lam.

M. Ahid Yasin
Di kutip dari buku Petuah Bijak dan Kisah Inspiratif Ulama Salaf Nusantara.


0 komentar